Rabu, 08 Juni 2011

NERACA KEUANGAN KELUARGA

Untuk dapat menganalisis lebih dalam mengenai kondisi keuangan, maka dibutuhkan bantuan berupa laporan keuangan dalam bentuk neraca keuangan dan laporan arus kas. Pada bagian ini akan dibahas mengenai neraca keuangan keluarga/pribadi sedangkan bagian selanjutnya akan membahas kondisi arus kas klien. Neraca keuangan pribadi ataupun keluarga, pada dasarnya serupa dengan neraca keuangan perusahaan dimana laporan ini menunjukkan posisi keuangan (asset, kewajiban dan kekayaan bersih) suatu keluarga pada saat tertentu. Perbedaan utama dengan neraca keuangan perusahaan adalah pada sisi ekuitas, dimana bila pada neraca perusahaan maka posisi ini bersumber dari setoran modal, laba ditahan ataupun agio saham, sedangkan pada neraca keuangan suatu keluarga maka posisi ekuitas akan digantikan dengan kekayaan bersih yang merupakan selisih antara asset dengan total kewajiban. Hal ini seperti yang tampak pada gambar 3.1.



A. Aset
1. Aset Likuid
Aset likuid merupakan asset dalam bentuk kas ataupun asset yang dapat dikonversi dengan cepat menjadi kas. Contohnya adalah uang tunai, tabungan, piutang dan deposito jangka pendek. Asset ini sangat penting dalam rangka memenuhi kewajiban jangka pendek dan juga bertindak sebagai dana cadangan (Reserve Fund) untuk keperluan-keperluan yang bersifat mendadak. Tentunya anda akan bertanya mengapa tabungan dan deposito dimasukkan dalam aset likuid, bukan ke dalam aset investasi. Hal ini dengan pertimbangan bahwa kedua aset tersebut dapat kita ambil sewaktu-waktu, meskipun untuk deposito kita harus menunggu jangka waktu jatuh tempo. Selain itu tabungan dan deposito memberikan hasil yang relatif kecil, apalagi bila kita memperhitungkan tingkat inflasi maka hasil yang diperoleh dari tabungan dan deposito tidak mampu menutupi tingginya tingkat inflasi. Hal ini dapat diilustrasikan dengan gambar 3.2. sebagai berikut:



Gambar ini mengilustrasikan bahwa hasil dari tabungan relatif kecil, sehingga dapat dikatakan menabung uang tidak sama dengan menginvestasikan uang. Dari gambar diketahui bahwa pendapatan dari bunga atas tabungan tidak mungkin mengejar laju inflasi. Berbeda bila kita melakukan investasi seperti di saham ataupun reksadana yang menwarkan tingkat hasil lebih tinggi yang dapat mengimbangi laju inflasi. Dalam instilah perencanaan keuangan: menabung bisa mempertahankan uang yang disisihkan, sedang investasi bisa membantu menumbuhkan penghasilan.
1.      Aset Investasi
Yang termasuk katagori ini adalah reksadana, saham, obligasi, tabungan pensiun, nilai tunai asuransi jiwa dan nilai bersih sebuah bisnis. Pada aset tipe ini maka uang yang disisihkan akan dapat tumbuh berkembang sehingga dapat bermanfaat di masa yang akan datang. Khusus untuk nilai bersih sebuah bisnis, yang dimaksud disini adalah apabila keluarga tersebut memiliki usaha yang dapat menghasilkan pendapatan. Dimana nilai bersih bisnis disini diperoleh dari mengurangi aktiva dari bisnis dikurangi dengan kewajiban bisnis. Apabila usaha tersebut merupakan usaha patungan bersama orang lain, maka nilai bersih yang dicantumkan adalah nilai bersih yang menjadi hak miliki kita.
2.      Aset Kepemilikan Pribadi
Aset kepemilikan pribadi ini merupakan bagian terbesar yang ada dalam suatu keluarga. Aset ini dapat berupa nilai pasar kendaraan bermotor (baik mobil ataupun sepeda motor), barang koleksi (seperti lukisan atau barang antik), dan perhiasan logam mulia dimana untuk emas lantakan akan dinilai sebesar nilai pasar sedangkan untuk perhiasan sebaiknya dinilai sebesar 75% dari nilai pasar. Selain itu yang termasuk dalam katagori aset kepemilikan pribadi lain adalah perangkat furniture, perangkat elektronik, perlengkapan home theater, perangkat komputer. Penilaian terhadap aset-aset terakhir yang disebutkan ini dilakukan dengan memperkirakan berapa harga yang wajar jika aset tersebut dijual, khusus elektronik maka barang-barang ini akan sangat jatuh harganya mengingat perkembangan teknologi yang sangat cepat dewasa ini. Untuk pencatatan dalam neraca maka aset elektronik ini dapat dicantumkan dengan besaran maksimal 50% dari harga perolehannya.
3.      Aset Tidak Bergerak
Yang termasuk dalam Aset tidak bergerak adalah rumah tempat tinggal dan properti lainnya seperti tanah ataupun rumah kedua. Nilai yang dimasukan dalam neraca adalah nilai pasar dari rumah tersebut.

B.     Kewajiban

1.      Kewajiban Lancar
Yang dimaksud dengan kewajiban lancar adalah kewajiban yang akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun. Yang termasuk katagori ini adalah utang kartu kredit, proporsi kredit pemilikan rumah yang akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun, kredit kendaraan bermotor yang akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun, dan utang lainnya seperti utang pajak.
2.      Kewajiban Jangka Panjang
Kewajiban jangka panjang adalah kewajiban yang akan jatuh tempo lebih dari satuh tahun. Contoh dari katagori ini yang lazim adalah utang kredit pemilikan rumah yang lazimnya jangka waktunya adalah 10, 15 ataupun 20 tahun yang akan datang.

C.    Kekayaan Bersih

Setelah mengetahui gambaran asset dan kewajiban yang kita miliki, maka langkah selanjutnya adalah mengetahui berapa besar kekayaan bersih yang kita miliki. Kekayaan bersih diperoleh dari mengurangkan total asset dengan total kewajiban. Pada dasarnya bila dibandingkan dengan neraca suatu perusahaan, maka posisi kekayaan bersih ini menyerupai ekuitas yang ada dalam neraca keuangan perusahaan. Dimana hal ini sama-sama mencerminkan besaran modal yang perusahaan ataupun suatu keluarga miliki.

Selanjutnya dibawah ini diberikan contoh neraca keuangan suatu keluarga.



A.    Rasio Keuangan Pribadi

Setelah memiliki gambaran keuangan dari suatu keluarga maka perlu dilakukan analisis sederhana dengan menggunakan rasio untuk melihat baik/buruknya kondisi keuangan keluarga tersebut. Ada beberapa rasio yang dapat dipergunakan yakni:
1.      Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio)
Rasio likuiditas menggambarkan kemampuan asset likuid yang kita miliki untuk memenuhi biaya hidup bulanan. Secara matematis hal ini dapat ditulis sebagai berikut:
Rasio Likuiditas = Aset Likuid / biaya hidup bulanan
Dari contoh neraca, kita dapat mengetahui besarnya asset likuid yakni 53.500.000, sedangkan bila diasumsikan bahwa biaya hidup bulanan keluarga tersebut adalah 5.000.000 maka rasio likuiditasnya adalah 10,7 bulan (53.500.000/5.000.000). Hal ini mengindikasikan bahwa asset likuid akan mampu menutupi kebutuhan biaya hidup selama 10,7 bulan. Semakin tinggi rasio likuiditas maka hal ini semakin baik. Tetapi perlu pula dipertimbangkan bahwa semakin tinggi rasio likuiditas berarti mengindikasikan banyaknya dana yang tertanam dalam asset likuid, dimana asset likuid ini kurang memberikan hasil dibandingkan dengan asset investasi.
2.      Rasio Lancar (Current Ratio)
Rasio lancar menunjukkan kemampuan suatu keluarga untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Rasio ini diperoleh dengan membagi asset likuid terhadap kewajiban lancar, atau dapat diformulasikan sebagai berikut:
Rasio Lancar = Aset likuid/ kewajiban lancar
Dari contoh neraca maka dapat dihitung besarnya rasio lancar yakni: 1,126 kali (53.500.000/47.500.000). Hal ini mengindikasikan bahwa asset likuid sebesar Rp. 1,126 akan mampu menutupi kewajiban sebesar Rp.1. Semakin tinggi besarnya rasio lancar maka hal ini menunjukkan kemampuan keluarga tersebut untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya semakin tinggi pula. 
3.      Rasio Utang terhadap Total Aset (Debt Ratio)
Rasio ini mengindikasikan besarnya utang dibandingkan dengan total asset yang dimiliki keluarga. Secara matematis dapat ditulis dengan rumusan sebagai berikut:
Rasio Utang terhadap Total Aset
            = Total kewajiban / total asset
dari contoh neraca maka dapat diketahui besaran rasio utang terhadap total asset yakni: 32,53% (147.500.000/453.500.000). Rasio ini menunjukkan hubungan antara utang dengan total asset, dimana dalam kasus di atas berarti proporsi asset yang dibiayai melalui utang adalah sebesar 32,53%. Semakin tinggi rasio ini, berarti menunjukkan semakin banyak asset yang pembeliannya dilakukan melalui utang. Akibatnya akan semakin besar pula kewajiban bulan dalam bentuk biaya bunga yang harus disisihkan oleh suatu keluarga.
4.      Rasio Utang terhadap Kekayaan Bersih (Debt to Net Worth’s Ratio)
Rasio ini menunjukkan perbandingan antara jumlah utang dengan kekayaan bersih yang dimiliki oleh suatu keluarga. Secara matematis dapat ditulis dengan rumusan sebagai berikut:
Rasio Utang terhadap kekayaan bersih
            = Total kewajiban / kekayaan bersih
Dari contoh neraca keluarga maka dapat diketahui rasio utang terhadap kekayaan bersih yakni sebesar 48,20% (147.500.000/306.000.000). Normatifnya semakin kecil rasio ini berarti semakin baik komposisi keuangan keluarga tersebut. Rasio ini mencerminkan kemampuan keluarga tersebut bila semua kekayaan bersihnya dipergunakan untuk menutupi utangnya, dimana dalam contoh di atas berarti setiap Rp.1,- kekayaan bersih dapat digunakan untuk mengkover kewajiban sebesar Rp. 0,482,-


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar